Hi! now you're at my blog... enjoy stay here :)

Saturday, March 30, 2013

Windows Store Menyediakan Aplikasi Open Source

IDGEEKS.NET, Windows – Sudah bukan meruapakan hal yang baru lagi ketika Windows segera merilis Windows Store beserta produk terbarunya yakni Windows 8, yang menjadi hal baru disini adalah benarkah Windows Store menyediakan aplikasi Open Source, ini berarti konsepnya hampir sama dengan Android dan iOS dalam menyediakan apps store.


Berikut press release :
“Apps that are released under an Open Source Initiative-recognised open source licence can, at least in the pre-release version of the Windows Store, be distributed according to terms that contradict Microsoft’s Standard Application License Terms if this is required by the open source licence. Among other things, the Standard Application License Terms prohibit the sharing of applications.”
Aplikasi yang ada di Windows Store bisa di download secara gratis dan ada aplikasi yang berbayar, konsep ini tentu berbeda dengan Apple yang memberikan aturan terhadap aplikasi yang di download, selanjutnya konsep ini jutru hampir sama dengan Android yang memberikan kebebasan pengguna untuk melakukan donwload terhadap aplikasi yang gratis.
Seperti yang ada pada gambar tersebut, gambar diatas masih rumor, belum pasti gambar diatas merupakan interface dari Windows Store.
IDGEEKS TALK :
Menurut berita yang sudah kami dapatkan, Open Source yang dilakukan oleh Microsoft pada Windows Store ini masih belum nyata, kami rasa masih banyak yang akan dirubah oleh pihak Micrsofot sendiri, mereka pasti mempunyai strategi marketing sendiri untuk bagaimana memberikan kenyamanan dan kemudahan terhadap pengguna dan tentunya developer.


Thursday, March 14, 2013

Macam-Macam Sistem Operasi Jaringan Berbasis Text dan Gui





Sistem operasi (SO) dan dalam bahasa ingris di sebut (operating system) (OS) adalah seperangkat program yang mengelola sumber daya perangkat keras komputer, dan menyediakan layanan umum untuk aplikasi perangkat lunak. Sistem operasi adalah jenis yang paling penting dari perangkat lunak sistem dalam sistem komputer. Tanpa sistem operasi, pengguna tidak dapat menjalankan program aplikasi pada komputer mereka, kecuali program aplikasi booting.

Berikut ini adalah info tentang Macam-Macam System operasi berbasis text dan gui:
  • Sistem Operasi Jaringan Berbasis GUI
           Adalah Sistem operasi yang dalam proses Instalasinya, user tidak perlu menghafal perintah DOS atau bahasa pemograman yang digunakannya, dengan catatan menggunakan perintah perintah yang berupa gambar atau simbol .

==> Berikut beberapa contoh Sistem Operasi jaringan berbasis GUI
  • Linux Redhat
  • Windows NT 3.51
  • Windows 2000 (NT 5.0) 
  • Windows Server 2003
  • Windows XP
  • Microsoft MS-NET
  • Microsoft LAN Manager
  • Novell NetWare,dll

  •      Sistem Operasi Jaringan Berbasis Text
         Adalah sistem operasi yang proses instalasinya, user diharapkan untuk menghafal sintax – sintax atau perintah DOS yang digunakan untuk menjalankan suatu proses instalasi Sistem Operasi Jaringan tersebut,

==> Berikut beberapa contoh Sistem Operasi jaringan berbasis text
  •   Linux Debian
  •   Linux Suse
  •   Sun Solaris
  •   Linux Mandrake
  •   Knoppix
  •   MacOS
  •   UNIX
  •   Windows NT
  •   Windows 2000 Server  Windows 2003 Server,dll

Saturday, March 2, 2013

Open Source vs. Free Software



Perbedaan antara Open Source dan Free Software

Open source software dan free software adalah dua gerakan yang bermunculan untuk melawan tren yang semakin maju dari pemilik software komersial. Dari nama ‘open source’, kita sudah dapat menyimpulkan bahwa kode sumber software tersedia secara gratis bagi masyarakat untuk dapat dilihat dan dipelajari. Sebenarnya, skala dari open source software memilki ketentuan lebih dari sekedar memiliki kode sumber yang terlihat. Ada banyak definisi dari free software, yang paling umum adalah ‘freeware’, atau software  yang tidak perlu membayar untuk menggunakannya. Namun, gerakan free software menetapkan bahwa kebebasan dalam free software jauh melebihi biaya dari software. Pada dasarnya, pengguna dapat melakukan apapun untuk free software, asalkan software yang dihasilkan juga gratis.

Free software adalah kode berbagi metode dibandingkan dengan open source, yang memungkinkan pembuat kode untuk menentukan kondisi tertentu, untuk memungkinkan penggunaan hukum dan distribusi software. Kode dari open source software dapat menentukan apakah pengguna diperbolehkan untuk mendistribusikan kode dimodifikasi atau tidak. Hal ini tidak mungkin dengan free software, karena khusus menunjukkan bahwa kode dimodifikasi berasal dari free software, juga harus dirilis sebagai free software.

Aspek lain pendukung free software yang menunjukkan pada perangkat lunak open source, adalah praktek dari beberapa perusahaan untuk memasarkan software mereka sebagai open source, tetapi mayoritasnya memiliki fungsi sebagai pemilik software yang dijual tidak gratis. Jadi, meskipun software utama dilisensikan sebagai open source software, membayar untuk mendapatkan fungsionalitas penuh juga diperlukan. Free software tidak diperkenankan untuk bekerja dengan pemilik software, sehingga menghilangkan kemungkinan istilah free software yang digunakan dalam cara yang berbeda.

Meskipun ada faksi utama dalam mempertahankan free software dan open source software, keduanya masih bersatu melawan musuh bersama, pemilik software.Spesifik dari masing-masing mungkin berbeda drastis, tetapi tujuan untuk memberikan gratis dan eksistensi software adalah tetap sama untuk keduanya.

Kesimpulan:

Free software adalah open source software, tetapi open source software belum tentu free software.

Open source memungkinkan kontrol lebih besar atas program kodenya dibandingkan free software.

Open source software dapat bekerja dengan pemilik software lainnya, sedangkan free software tidak memungkinkan hal yang sama.


Friday, February 22, 2013

Pentingnya Tata Kelola Risiko Penggunaan Open Source




Jika anda pernah menjadi seorang developer, atau pernah mengelola organisasi ataupun proyek pengembangan sistem yang bersifat custom, mungkin anda akan familiar dengan situs-situs seperti sourceforge atau maven. Situs-situs tersebut merupakan situs komunitas open source yang menyediakan berbagai program, komponen dan tools dalam beragam jenis, fungsi dan kelas yang terbuka untuk digunakan dan dikembangkan lebih lanjut.
Menurut sebuah survey yang dilakukan oleh Accenture, hampir 80% perusahaan besar mengatakan bahwa mereka telah menggunakan teknologi open-source dan penggunaannya ini katanya akan semakin meluas di masa yang akan datang. Adapun Gartner memperkirakan bahwa pada 2013 kini, teknologi open-source ini akan digunakan dalam 85% dari seluruh solusi perangkat lunak komersial modern.
Meledaknya pengadopsian teknologi open-source ini disebabkan karena memang banyak manfaatnya. Selain biayanya relatif rendah, kualitas produknya juga banyak yang bagus, memungkinkan inovasi-inovasi terus menerus, mempercepat proses pengembangan perangkat lunak, serta beragam manfaat lainnya.




Namun demikian –betapapun—selain banyak manfaatnya, penggunaan teknologi open-source juga mengandung risiko baik bisnis maupun teknis yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Coba kita bayangkan, setiap saat berbagai organisasi mengunduh puluhan ribu komponen open-source. Bayangkan jika kemudian komponen-komponen tersebut tidak dimonitor dan dikontrol penggunaannya. Kondisi ini dikonfirmasi oleh survey yang dilakukan oleh Sonatype . Sejumlah 87 persen dari responden survey yang melibatkan 1600 software developer, team leader, dan system architect ini mengatakan bahwa mereka menggunakan komponen-komponen open source dalam pengembangan aplikasi-aplikasinya tanpa menerapkan tata kelola yang memadai.

Risiko apa yang dapat ditimbulkan oleh kondisi seperti ini. Kondisi tata kelola open source yang minim seperti itu setidaknya akan menimbulkan risiko kualitas dan integritas aplikasi, risiko keamanan, dan juga risiko legal [Gold, 2012].
Bagaimana ia dapat berpengaruh pada kualitas dan integritas aplikasi? Fakta menunjukkan bahwa komponen-komponen open source ini terus dimodifikasi dan dikembangkan. Hal ini disamping berdampak positif terhadap kualitas komponen tersebut juga berisiko pada pengendalian versi (version control) dari komponen maupun aplikasi yang menggunakannya. Menurut statistik maven, setiap komponen rata-rata diupdate empat kali dalam setahun. Ketika sebuah aplikasi semakin kompleks, maka tingkat kesulitan untuk mengelola komponen-komponen yang digunakan pun akan semakin kompleks pula. Nah dengan ratusan ribu komponen yang tersedia bebas di jagad maya jelas membuat kesulitan yang luar biasa bagi organisasi untuk mengikutinya. Sehingga bisa saja versi-versi yang berbeda-beda dari komponen yang sama digunakan di dalam sebuah organisasi. Hal ini bisa menyebabkan kekacauan yang berdampak pada kualitas dan integritas dari aplikasi-aplikasi yang digunakan.

Tata kelola open source yang tidak baik juga menimbulkan kerawanan pada keamanan informasi organisasi. Komponen-komponen open source yang tersedia bebas di Internet itu tentu tidak semuanya aman. Banyak komponen-komponen yang memiliki kerawanan keamanan yang signifikan, tapi tidak diketahui oleh para calon penggunanya. Bahkan walaupun peringatan security telah dipublikasikan, tetap saja kurang dipedulikan karena tidak adanya standard tata kelola yang diterapkan di organisasi. Ini adalah fakta yang berulangkali terbukti. Misalnya pada Januari 2010, US-CERT dan NIST, dua lembaga yang berkaitan dengan security dan standard teknologi di Amerika, menyampaikan peringatan melalui National Vulnerability Database bahwa Jetty, sebuah open-source servlet container, memiliki cacat security yang kritikal yang dapat memungkinkan masuknya serangan terhadap antara lain kerahasiaan informasi organisasi. Tapi walaupun ada peringatan tersebut, pada Desember 2010, hampir setahun setelahnya, terdapat sekitar 11 ribu organisasi mengunduh versi rawan dari Jetty ini dari maven dalam sebulan.

Faktor risiko penting lainnya adalah yang terkait dengan permasalahan lisensi. Terdapat beberapa tipe lisensi open source, masing-masing dengan terms dan kondisi yang berbeda-beda. Beberapa tipe lisensi tidak kompatibel satu dengan lainnya dan tidak dapat dikombinasikan dalam sebuah aplikasi baru. Salah satu pertimbangan penting dalam memilih sebuah lisensi adalah apakah skema lisensi dari komponen itu memberikan batasan-batasan pada aplikasi yang dihasilkan nanti. Skema lisensi copyleft seperti GNU General Public License (GPL) dan turunan-turunannya, mungkin adalah yang paling problematis untuk entitas komersial. Tipe lisensi ini memungkinkan siapapun untuk menggunakan komponen berlisensi tersebut pada proyek-proyeknya, tapi, pada gilirannya nanti aplikasi yang dihasilkan nanti juga akan memiliki hak yang sama, termasuk membuat aplikasi turunan dan source codenya mesti tersedia secara gratis pula. Dengan kata lain, copyleft adalah sebuah metode umum untuk membuat sebuah program menjadi gratis dan menuntut semua versi modifikasi dan pengembangannya menjadi gratis pula.

Mengabaikan atau melupakan kewajiban perlisensian ini dapat berimplikasi pada masalah hukum. Oleh karena itu para developer mesti diberi pedoman yang jelas untuk memastikan bahwa mereka hanya menggunakan komponen-komponen yang memiliki sistem lisensi dengan risiko yang dapat diterima oleh organisasi.

Faktor-faktor risiko open source diatas semakin menguatkan mengenai pentingnya tata kelola yang baik dalam pemanfaatan teknologi open source dalam pengembangan sistem. Jika tidak, maka ia akan menjadi bom waktu yang setiap saat dapat meledak dengan dampak kerusakan yang mengerikan. Kerusakan yang tidak hanya berdampak pada IT saja, tapi juga dampak bisnis yang lebih luas. 

Sumber: http://www.manajemen-ti.com/manajemen-risiko/280-pentingnya-tata-kelola-risiko-penggunaan-open-source.html

Mengapa dan Bagaimana Open Source di Dunia Pendidikan